HOS Tjokroaminoto, Blue Print Gagasan Negara Indonesia dan Penjelajah Nusantara

Oleh :

Moh. Ma’ruf Asli Bhakti (Wakil Ketua Umum Partai Rakyat Adil Makmur)

Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto tokoh dakwah yang tidak dapat dilepaskan dari perkembangan organisasi Syarikat Islam (SI) yang kemudian berubah menjadi Partai Sarikat Islam (PSI) dan Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dan hubungannya dengan dakwah dan kesejahteraan sosial.

Umar Said Tjokroaminoto merupakan Ketua Syarikat Islam dan menjadi pemimpin PSI dan PSII hingga akhir hayatnya.Tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah Syarikat Islam.

Raden Mas Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau dikenal dengan H.O.S Tjokroaminoto merupakan salah satu tokoh pergerakan nasional yang memberikan pengaruh untuk memperjuangkan kesejahteraan sosial dan juga berpengaruh besar dalam dinamika politik Indonesia, termasuk di dalamnya membentuk pemikiran politik maupun mempengaruhi tindakan politik banyak tokoh pergerakan nasional.

Dalam sebuah ulasan Kompas.com, HOS Tjokroaminoto disandangkan predikat tokoh nasionalis Indonesia. Media berbasis Katolik itu menyebutkan, Ia dikenal dengan julukan Raja Jawa tanpa Mahkota. Selain itu, Tjokro dikatakan menjadi salah satu pelopor gerakan buruh di Indonesia dan menjadi guru bagi beberapa tokoh ternama, salah satunya Soekarno. Pada 1912.

Dalam catatan dokumen lainnya, ternyata HOS Tjokroaminoto merupakan guru dari semua tokoh ideologis politik Indonesia yang mewarnai perjuangan perlawanan di akhir pendudukan kolonialisme Hindia Belanda, sekaligus masa perjuangan revolusi.
Tokoh-tokoh itu mewakili kekuatan politik Islam, Islam Nasionalis, serta Sosialis-Komunis.

Sebut saja dari tokoh-tokoh itu, Sekarmaji Marijan Kartoswiriyo, KH. Agus Salim, Buya Hamka, Sokarno, Semaun, Mualimin, Muso, Tan Malaka dan bebrapa lainnya.

Mereka semua menimba ilmu langsung dari HOS Tjokroaminoto di kediamannya di Jawa Timur. SM Kartoswiriyo tercatat menjadi Sekretaris Pribadinya dan Sukarno sempat menjadi menantu Sang Guru Bangsa.

Tjokroaminoto menjadi pemimpin dari organisasi politik pertama Indonesia, yaitu Sarekat Dagang Islam atau Sarekat Islam, yang didirikan oleh Haji Samanhudi.

Tjokroaminoto lahir di Ponorogo, 16 Agustus 1882. Ia merupakan anak kedua dari 12 bersaudara. Ayahnya bernama RM. Tjokroaminoto (Bupati Kleco, Jawa Timur), sedangkan sang kakek bernama RMA. Tjokronegoro (Bupati Ponorogo).

Berdasarkan dari silsilahnya, pendidikan Tjokroaminoto lebih diarahkan ke dalam pendidikan untuk pegawai negeri. Pada 1902, Tjokroaminoyo lulus dari Opleiding Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) atau sekolah pegawai negeri adat di Magelang.

Setelah lulus, ia bekerja sebagai salah satu pegawai negeri di Ngawi selama tiga tahun, 1902 sampai 1905. Lalu, pada 1906, Tjokroaminoto berpindah ke Surabaya. Ia bertemu di Surabaya dengan Samanhudi, pendiri serta pemimpin Serikat Dagang Islam (SDI).

Di malam hari Tjokroaminoto mengisi waktunya dengan bersekolah di Burgerlijke Avond School (BAS) atau sekolah teknik mesin selama beberapa tahun. Selesai di BAS, ia bekerja di pabrik gula pada 1907 sampai 1912.

Tjokroaminoto menulis untuk Bintang Soerabaja setiap harinya dan menjadi asisten staf. Tulisan yang Tjokroaminoto tuangkan dalam Bintang Soerabaja adalah kritik untuk pemerintah Hindia Belanda.

Surat kabar yang ia tulis pun laris terjual. Hal ini kemudian menimbulkan kekhawatiran bagi pemerintah Hindia Belanda sendiri. Ia dianggap sebagai ancaman bagi pemerintah Hindia Belanda karena menulis tentang propaganda di seluruh surat kabar.

Sejak saat itu, Tjokroaminoto langsung dikenal sebagai sosok organisasi pergerakan yang berani melawan Hindia Belanda. Selain melawan pemerintah Hindia Belanda.

Organisasi politik pertama dimana Tjokro bergabung sekaligus awal ia berorganisasi adalah Sarekat Dagang Islam. Pada 1911, Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam untuk mempromosikan kepentingan para pedagang Indonesia pada persaingan Cina.

Tjokroaminoto pun diminta untuk bergabung dalam organisasi ini. Ia diminta untuk mempersiapkan regulasi yang dibutuhkan organisasi dan penanganan manajemen.

Tjokroaminoto menyarankan agar kata dagang dihapuskan dalam nama Serikat Dagang Islam, sehingga hanya menjadi Sarekat Islam (SI). Perubahan nama ini dilakukan agar organisasi Sarekat Islam tidak hanya berfokus pada perekonomian, tetapi juga hal lain, seperti politik.

Setelah berubah, Tjokroaminoto pun mengetuai Sarekat Islam pada 1912. Panitia pusat pun dibentuk oleh Samanhudi sebagai ketua dan Tjokroaminoto sebagai wakil ketua.

Untuk kepentingan organisasi, Tjokroaminoto dan petinggi lainnya pergi ke Gubernur Jenderal Alexander Willem Frederik Idenburg pada 29 Maret 1913. Tujuan mereka datang ke Idenburg yaitu untuk mengesahkan SI, namun pengesahan tersebut tidak dapat diberikan. Tetapi, Sarekat Islam lokal dapat diberikan status sebagai badan hukum.

Sejak saat itu, jumlah anggota SI pun meningkat pesat, menjadi sekitar dua setengah juta.

Sejak bergabung di SI, Tjokroaminoto pun dikenal sebagai Ksatria Piningit para pribumi karena sudah memberikan sumbangsih kepada orang banyak. Ia juga diberi julukan sebagai Raja Jawa tanpa Mahkota atau De Ongekroonde Van Java.

Salah satu kutipan yang terkenal dari Tjokroaminoto adalah “semurni-murni tauhid, setinggi-tinggi ilmu, sepintar-pintar siasat”. Kutipan tersebut ia dikenal dengan TRILOGI TJOKRO dan berikan kepada murid-muridnya, Semaun, Alimin, Musso, Soekarno, dan Kartosuwiryo dan lainnya.

Trilogi ini menunjukkan keutuhan pemikiran Tjokro mengenai Keislaman, Ilmu dan Politik. Dari Tiga tema utama itu, nampak Tjokroaminoto ingin menggambarkan suasana perjuangan Indonesia pada masanya.

Pesan lain yang juga ia berikan kepada Kartoswiryo, Sukarno dan kawan-kawannya adalah “Jika anda ingin menjadi pemimpin yang hebat, menulis seperti jurnalis dan berbicaralah seperti orator”.

Perjuangan yang Tjokroaminoto kerahkan untuk Indonesia antara lain adalah: mengecam pengambilan tanah untuk dijadikan perkebunan milik orang-orang Eropa. Mendesak Sumatera Landsyndicaat supaya mengembalikan tanah rakyat di Gunung Seminung, Sumatera Selatan. Menuntut supaya kedudukan dokter-dokter pribumi disamakan dengan dokter-dokter Belanda.

Tjokroaminoto yang wafat pada 17 Desember 1934 ini menjadi tokoh inspiratif bagi bangsa ini. Ia adalah tokoh yang populer dengan Triloginya yang menggambarkan sosoknya sungguh mendalam memahami ajaran Islam sebagai spirit perjuangan sosial politik menegakkan keadilan dan kebenaran.

Konteks Indonesia yang terjerat cengkraman kolonialisme ratusan tahun itu mampu diformulasikan dalam bentuk yang rapih, terstruktur. Memiliki gagasan, mentransfernya sendiri kepada para generasi penerusnya yang tak pandang klan dan suku apalagi dinasti.

Dalam logika ini sesungguhnya apa yang kita anggap Indonesia adalah gagasan-gagasan murid-muridnya itu, Blue Printnya telah ada dan lahir oleh Tjokroaminoto. Disinilah letak kelebihan utama sang inspirator: Melahirkan gagasan, mentransfer gagasan itu kepada orang-orang pilihan yang datang padanya dan terbukti kelak dapat diwujudkan hingga saat ini.

Bukan hanya menggas Indonesia dari balik meja atau di atas tikar suraunya, HOS Tjokroaminoto mampu menjelajahi pelosok Nusantara membawa gagasannya, yang tentu saja dengan Triloginya itu. Saya sendiri selaku penuis di sini, seolah tak percaya jika Sang Maha Guru pernah menginjakkan kaki di kampung kelahiran Saya di Tolitoli, sebuah dearah pelosok saat ini Kabupaten di bagian Utara Sulawesi Tengah.

Jejak sejarah itu terlihat dari keberadaan SI di wilayah itu yang konon Tjokroaminoto sendirilah yang melantik ketuanya yang bernama Hi. Hayun. Tokoh ini pulalah yang kemudian menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme di Bumi Tolitoli.

Hi Hayyun sendiri di Daerah saat itu adalah Imam Desa Salumpaga dikenal dengan keberaniannya memberi perlawanan yang menewaskan seorang Kontroliur Belanda beserta rombongan dan pasukannya yang hendak memaksa kembalinya beberapa orang Rakyat Salumpaga sebagai pekerja paksa di Pelabuhan yang kini dikenal Pelabuhan Rakyat Hi. Hayyun Tanjung Batu Tolitoli.

Peristiwa heroik itu kemudian dikenal oleh warga Sulawesi Tengah, khususnya di Tolitoli sebagai peristiwa Pemberontakan Salumpaga. Dimana Salumpaga adalah Desa Tua dan cukup luas yang berada di Kecamatan Tolitoli Utara yang berbatasan dengan Kabupaten Buol, Sulawsi Tengah saat ini.

Tulisan ini diramu dari berbagai Sumber…..

Tinggalkan Balasan